Sabtu, 05 Februari 2011

Ilmu Sebelum Amal


Ilmu Sebelum Amal

Imam Bukhari dalam kumpulan hadits shahihnya menuliskan bab dengan judul “Ilmu Sebelum perkataan dan perbuatan”. Hal ini didasarkan pada ayat:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Ketahulilah (Ilmuilah) bahwa tidak ada tuhan yang haq disembah selain Allah”.Qs. Muhammad/47: 19).

Ayat ini menegaskan bahwa iman harus didasari ilmu, begitu pula setiap amal yang kita lakukan harus memiliki pijakan ilmu yang benar dan jelas. Dengan kata lain, ilmu adalah imam sedangkan amal adalah makmum. Itulah pentingnya ilmu. Maka dari itu, segala sesuatu menjadi mulia dan istimewa bila terkait erat dengan ilmu.

مَا أَفْضَلَهُ1. Alangkah Utamanya
Untuk memahami keutamaan ilmu, mari kita simak hadits-hadits berikut.

Rasulullah saw bersabda:
{مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ}
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, maka Allah fahamkan ia dalam urusan agama (Islam)” (Hr.Bukhari dan Muslim).
Seberapa besarkah kebaikan yang Allah akan terimakan kepada kita? Kita bisa melihatnya dari seberapa besar perhatian kita untuk memperdalam agama-Nya.

Rasulullah saw juga bersabda:
{مَا عُبِدَ اللهُ سُبْحَانَهُ بِشَيْئٍ أَفْضَلَ مِنْ فِقْهٍ فِيْ الدِّيْنِ}
“Tidaklah Allah swt disembah dengan sesuatu yang lebih utama  dibanding kepafahan terhadap agama” (Hr. Tirmidzi).

Umar bin khatthab memahami benar apa yang telah disabdakan oleh rasulullah saw di atas. Maka tidak berlebihan kalau ia lalu mangatakan:
{لَمَوْتُ أَلْفِ عَابِدٍ قَائِمِ اللَّيْلِ  صَائِمِ النهَارِ أَهْوَنُ مِنْ مَوْتِ الْعَالِمِ الْبَصِيْرِ بِحَلاَلِ اللهِ تعالى وَحَرَامِهِ}
“Sungguh kematian seribu ‘abid (orang ahli ibadah) yang bangun ibadah di malam hari dan berpuasa di siang hari itu lebih ringan dibanding kematian seorang ‘alim yang memahami apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah”.

Imam Sufyan Tsauri menambahkan:
{لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ بَعْدَ النُّبُوَّةِ أَفْضَلَ مِنَ الْعِلْمِ وَالْفِقْهِ فِيْ الدِّيْنِ}
“Tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih utama setelah kenabian dibanding ilmu dan pemahaman agama”

لَا يَسْتَوُوْنَ2. Mereka Tidak Sama 

Allah swt berfirman:
{ قُلْ هَلْ يَسْتَوي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ }
“Katakanlah: ‘Samakah antara orang-orang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?” (Qs. Az-zumar/39:9)

Ayat ini bermakna penegasan bahwa orang berilmu dengam orang yang tidak berilmu tidaklah sama, tidak selevel, dan tidak sederajat. Hal ini ditegaskan dalam ayat:
{ يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا العِلْمَ دَرَجَاتٍ }
“Allah meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu” (Qs. Al-mujadilah/58:11).

Ya, semakin seseorang berilmu, semakin takutlah ia kalau menyimpang dari aturan Allah. Itulah ilmu yang bermanfaat, karena puncak ilmu adalah khasyyatullah (takut kepada Allah) sebagaimana Allah firmankan:
{ إنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءُ }
“Tidak lain, yang takut kepada Allah adalah hamba-hamba-Nya yang berilmu” (Qs. Fathir/ 32: 28).

Rasulullah saw bersabda:
فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أدْنَاكُمْ
“Keutamaan orang alim di atas orang orang abid (ahli ibadah) adalah seperti keutamaanku di atas orang yang paling rendah diantara kalian” (Hr. Tirmidzi; hadits hasan)

مَا أَطْيَبَهُ3. Alangkah Indahnya

Adakah yang lebih indah dibanding taman surga? Rasululullah saw berpesan:
إذا مَرَرْتُمْ بِرِياضِ الجَنَّةِ فارْتَعُوا
“Apabila kalian melintasi taman-taman surga, maka rekreasilah”. Para sahabat bertanya: “Wahai rasul Allah, apa itu taman-taman surga?” beliau menjawab:
حِلَقُ الذّكْر
“Yaitu majlis-majlis dzikir” (Hr.Ahmad dan Tirmidzi)

Majelis dzikir adalah majelis tempat berkumpulnya orang – orang shaleh. Berkumpul untuk memuji kepada Allah, jauh dari masalah – masalah keduniaan. Sebagaimana ucapan para ahli surga yang senantiasa memuji Allah saat bertemu dengan ahli surga yang lain. Maka pantaslah jika majelis dzikir disebut oleh rasul saw sebagai taman – taman surga.

Majelis dzikir itu dirahmati Allah. Terbukti dengan banyaknya malaikat yang diutus Allah untuk mendatangi majelis dzikir, mencatat nama orang yang hadir dan melaporkan kepada Allah tentang siapa yang datang. Jika yang datang adalah para malaikat, tentu saja hati menjadi tenang. Betapa kontrasnya dengan majelis yang penuh maksiat. Berada di dalamnya membuat hati dan kepala jadi panas. Tentu saja karena yang datang bukan malaikat, tetapi setan yang terlaknat.

Lalu apa saja cakupan makna dzikir?
Imam Atha’ telah menjawabnya dengan penjelasan bahwa “Dzikir adalah majlis-majlis yang membahas  tentang halal dan haram. Bagaimana engkau berjual beli, bagaimana engkau shalat, puasa dan berhaji, bagaimana engkau menikah, bercerai dan semisalnya”

تَعَلَّمْ4. Belajarlah...!

- Kalau ilmu sedemikian penting dan utama,
- Kalau orang yang berilmu sedemikian dimuliakan dan ditinggikan derajatnya,
- Dan kalau majlis ilmu sedemikian indah laksana taman surga bahkan disebut taman surga, maka ungkapan yang paling tepat setelah itu adalah BELAJARLAH dan jangan berhenti mengkaji ilmu yang bermanfaat.

Rasulullah saw bersabda:
مَنْ خَرَجَ في طَلَبِ العِلْمِ فَهُوَ في سَبيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ
“Barang siapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah (fi sabilillah) hingga ia pulang” (Hr. Tirmidzi; Hadits hasan).

Juga sabdanya:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْماً ، سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقاً إِلَى الجَنَّةِ
“Siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (Hr. Muslim).

Lalu bagaimana para sahabat menyambut seruan ilmu sebagai pemandu jalan ke surga?
Inilah Abu Hurairah ra yang selalu mendampingi nabi agar bisa banyak belajar ilmu darinya. Dan ia memiliki kesan spiritual yang sangat mandalam tentang ilmu. Ia berkata: “Mempelajari satu bab ilmu lebih aku cintai dibanding shalat sunnah seribu rakaat”. Maka kita tidak heran kalau Imam Syafi’i lalu mengatakan: “Mempelajari ilmu lebih utama dibanding shalat sunnah”. Ini bukan mengecilkan arti shalat sunnah, melainkan bahwa shalat sunnah itu baru akan diterima kalau didasari ilmu sesuai yang dicontohkan nabi. Sebagaimana berbagai peluang amalan sunnah juga hanya bisa diketahui dengan ilmu.

عَلِّمْ5. Ajarkan...

Mari kita berbicara tentang apa yang sudah kita ketahui dan kita ilmui. Ilmu itu harus dizakati. Zakatnya adalah mengamalkan dan mengajarkannya. Istimewanya, ilmu semakin bertambah bila diajarkan.

Rasulullah saw bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikan dariku walau satu ayat” (Hr. Bukhari)

Berserilah wajah seseorang pertanda bahagia bila ia mendengar suatu hadits rasul lalu menyampaikannya kepada orang lain. Jangan remehkan ilmu yang telah kita pelajari. Betapa banyak orang yang mendengar sesuatu yang sangat sederhana dari kita, namun baginya adalah anugerah yang luar biasa. Dan di saat semua amal terputus oleh datangnya kematian, maka ilmu yang bermanfaat tidak terputus. Ia termasuk pengecualian.

Rasulullah saw bersabda:
إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّماوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ في جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِي النَّاسِ الخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, beserta penghuni langit dan bumu hungga semut di liangnya dan ikan, semuanya ber-shalawat untuk orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”.(Hr. Tirmidzi; Hadits Hasan)

Shalawat dari Allah adalah rahmat dan kasih sayang. Shalawat dari malaikat dimintakan ampun. Sedangkan shalawat dari sekalian penghuni langit dan bumi adalah doa kebaikan. Subhanallah...!

مَنْ دَعَا إِلَى هُدىً كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئاً
“Siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (Hr. Muslim).

ضَيَاعُ الْعِلْمِ ضَلَالٌ6. Hilangnya Ilmu = Kesesatan 

Rasulullah saw bersabda:
إنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزعهُ مِنَ النَّاسِ،وَلكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِماً ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوساً جُهَّالاً ، فَسُئِلُوا فَأفْتوا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu begitu saja dari  manusia. Melainkan Allah mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Hingga ketika tak tersisa lagi seorang ulama, maka manusia mengambil para pemimpin yang bodoh. Ketika ditanya, mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Maka sesatlah mereka dan menyesatkan”. (Hr. Bukhari Muslim)

Ilmu dimiliki oleh para ulama, maka kematian ulama sebenarnya adalah hilangnya ilmu yang dimilikinya. Dari Hilal bin Khabab, dia berkata “Aku pernah bertanya kepada Said bin Jubair, “Apa tanda – tanda binasanya manusia?” Dia berkata, “Jika ulama telah pergi (dipanggil menghadap Allah)”

Ketika seorang ulama meninggal, maka orang – orang sholeh akan bersedih. Bersedih karena ditinggalkan gurunya, shahabatnya, maupun ilmu yang dimilikinya. Ketika Zaid bin Tsabit meninggal dunia, maka Ibnu Abbas berkata, “Beginilah hilangnya ilmu pengetahuan”. Mendengar itu, Said berkata, “Begitu juga dengan meninggalnya Ibnu Abbas”. Mendengar itu, Ibnu Abbas mengatakan, “Begitu juga dengan meninggalnya Said bin Al Musayyib”.

Sekarang, tahulah kita kenapa para ulama harus terus bersama umat, terus berdakwah dan tidak boleh ber-uzlah. Allah telah “mengintrogasi” Musa As atas yang tergesa – gesa untuk bermunajat ke Thursina. Karena, ketika para ulama pergi dari kaumnya, pasti akan muncul “Samiri” yang akan  menyesatkan kaum tersebut sebagaimana kaumnya Musa As.

دَنْدِنْSenandungkan 

رَبِّ زِدْنِي عِلْمَاً
“Wahai Tuhanku, tambahkan ilmu padaku”


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Terimakasih atas kunjungan anda